PENGEMBANGAN MODEL CIPP DALAM MENGEVALUASI PEMBELAJARAN DARING DIMASA
PANDEMI COVID 19 DI SMP SWASTA PEMBANGUNAN KABUPATEN DELI
SERDANG
Isnan Nasution,
S.Pd, M.Pd.,1 Ramadhani, S.Pd.I., M.Pd.2, Dalmi
Iskandar Sultani, M.Pd.I3
ABSTRAK
Penelitian ini kami laksanakan di sekolah SMP Swasta Pembangunan, dimana tim melaksanakan program disekolah ini sebagai
bentuk pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi bagi UMN-AW. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
wawasan guru melalui pengembangan evaluasi pembelajaran daring yang dilakukan melalui kegiatan pendampingan untuk guru
dalam mengevaluasi kegiatan pembelajaran daring
yang auntentik dengan menggunakan Model CIPP. Sehingga dengan adanya evaluasi
pembelajaran daring, secara bertahap
diharapkan guru dapat mengetahui kekurangan dalam KBM dan mencari solusi
terbaik untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah tersebut. Metode pendekatan ini dalam bentuk ceramah dan pengisian angket evaluasi pembelajaran daring dengan model CIPP.
Kata Kunci : evaluasi pembelajaran daring, CIPP Model
PENDAHULUAN
SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang dibangun sekitar tahun 2018 sampai sekarang Jumlah guru masih 5 orang dengan jam masuk sekolah sebelum adanya covid 19 yaitu pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB, sampai sholat zuhur bersama. Sekolah ini belum menamatkan siswanya. Banyak yang harus dilengkapi dan diperbaikan sesuai dan selayaknya sekolah menengah pertama pada umumnya, yaitu dari sarana prasarana dan alat peraga ataupun media untuk menunjang keberhasilan pendidikan dan keberlangsungan sekolah ini.
Persaingan sekolah tingkat menengah pertama sangat ketat, dan kebutuhan terhadap pendidikan tingkat menengah pertama juga sebanding karena itulah sekolah ini berusaha untuk hadir ditengah sekitar penduduk patumbak. Dalam tata kelola mutu pendidikan sekolah ini masih terus diperbaiki sehingga sangat dibutuhkan pelatihan–pelatihan ataupun workshop untuk menunjang peningkatan wawasan guru dalam pengelolaan kelas, peningkatan kualitas Pendidikan di sekolah, serta evaluasi pembelajaran sehingga guru-guru memahami tingkat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan selama masa pandemic covid 19 ini.
Berdasarkan analisis situasi
diatas, permasalahan yang di hadapi SMP Swasta
Pembangunan Kabupaten Deli Serdang adalah:
1. Guru masih memerlukan pelatihan untuk peningkatan wawasan dan kompetensinya dalam
pembelajaran daring.
2.
Guru membutuhkan bantuan untuk
mengevaluasi pembelajaran daring dalam kegiatan
belajar mengajar secara online dimasa pandemi Covid 19.
TUJUAN DAN SASARAN
2.1
Tujuan Kegiatan
Evaluasi program sistem pembelajaran daring dilakukan untuk memperbaiki
kualitas dan meningkatkan mutu pembelajaran dengan mengevaluasi secara seksama, pelaksanaan pembelajaran daring pada SMP Swasta Pembangunan dengan menggunakan model evaluasi CIPP.
2.2 Sasaran Kegiatan
Sasaran yang dituju dalam evaluasi pembelajaran daring ini merupakan pihak yang berikutnya akan disebut sebagai mitra yaitu SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang, yang mana objek pengabdian yang diambil yaitu guru sebagai pendidik di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang. Sekolah ini dipilih sebagai mitra dikarenakan sekolah ini masih terbilang baru sehingga membutuhkan banyak kesempatan bagi para guru untuk mendapatkan pelatihan dan pembelajaran untuk meningkatkan wawasan dan kompetensi mereka, terutama dimasa pandemi seperti saat ini yang sulit untuk mengikuti pelatihan untuk meng-upgrade pengetahuan secara langsung diluar lingkungan sekolah. Dengan adanya pengabdian ini diharapkan dapat menambah wawasan guru untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pembelajaran daring yang dilaksanakan selama masa pandemic Covid-19 ini. pembelajaran daring pada masa pandemic covid-19 yang ditinjau dari Context, Input, Process, Product (CIPP). Dan untuk menjelaskan implementasi hasil dari penggunaan Model CIPP ini akan dijelaskan dengan metode deskriptif kuantitatif.
Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh guru di SMP Swasta Pembangunan sebanyak 26 orang, namun saat pelaksanaan sampel yang dilibatkan sebanyak 14 orang responden. Jenis data yang digunakan dalam evaluasi program
sistem pembelajaran daring
adalah data primer, artinya data yang langsung
didapatkan dari mitra yaitu guru.
Instrument yang digunakan
untuk mengumpulkan data dalam
penelitian ini
adalah dengan kuesioner terbuka
berskala likert. Teknik evaluasi yang digunakan secara daring dengan menggunakan google form untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya data yang diperoleh dilakukan tabulasi untuk dianalisis secara
deskrptif kuantitatif.
METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan penelitian ini dengan menggunakan model evaluasi program. Penelitian ini termasuk menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan dari suatu program pembelajaran. Model evaluasi yang digunakan adalah model CIPP. Penelitian difokuskan untuk menjelaskan program sistem pembelajaran daring pada masa pandemic covid-19 yang ditinjau dari Context, Input, Process, Product (CIPP). Dan untuk menjelaskan implementasi hasil dari penggunaan Model CIPP ini akan dijelaskan dengan metode deskriptif kuantitatif.
Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh guru di SMP Swasta Pembangunan sebanyak 26 orang, namun saat pelaksanaan sampel yang dilibatkan sebanyak 14 orang responden. Jenis data yang digunakan dalam evaluasi program
sistem pembelajaran daring
adalah data primer, artinya data yang langsung
didapatkan dari mitra yaitu guru.
Instrument yang digunakan
untuk mengumpulkan data dalam
penelitian ini
adalah dengan kuesioner terbuka
berskala likert. Teknik evaluasi yang digunakan secara daring dengan menggunakan google form untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya data yang diperoleh dilakukan tabulasi untuk dianalisis secara
deskrptif kuantitatif.
Di dalam pelaksanaanya, kegiatan ini akan dilaksanakan oleh Tim Dosen UMN Al- Wasliyah. Selain itu, program ini juga diarahkan pada terciptanya kerjasama yang kolaboratif dengan guru SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang.
Kegiatan ini dilaksanakan selama adalah 6 (enam) bulan yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pada proses monitoring evaluasi (MONEV). Perencanaan prorgam ini diawali dengan analisis situasi di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang. Selanjutnya, mengajukan proposal ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UMN Al-Wasliyah dan mengurus surat izin. Selain itu, menyiapkan menyiapkan angket evaluasi pembelajaran daring. Kemudian dilakukannya evaluasi yang meliputi evaluasi proses dan hasil. Evaluasi proses merupakan evaluasi selama dilaksanakannya penyampaian pengantar tentang pentingnya evaluasi pembelajaran dan penyampaian komponen penilaian evaluasi model CIPP yang akan di disampaikan kepada guru-guru SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang selama 3 pertemuan. Kemudian evaluasi hasil, dengan memberikan tugas berupa penyusunan hasil belajar/ nilai siswa yang dimiliki masing-masing guru atas pembelajaran daring yang sedang berlangsung saat ini, sehingga dapat dilanjutkan dengan proses pengisian kuisioner evaluasi pembelajaran daring sesuai dengan komponen penilaian evaluasi berdasarkan model CIPP.
Adapun
kegiatan dalam implementasi model CIPP sebagai evaluasi pembelajaran daring dimasa Pandemi Covid 19 di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten
Deli Serdang ini dilakukan selama tiga kali pertemuan. Tahapan
kegiatan ini dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Pertemuan Pertama, tim pengusul memberikan pengantar tentang pentingnya evaluasi dalam pembelajaran, terutama dalam pembelajaran daring. Kemudian memberikan pengarahan atau penjelasan tentang bagaimana dan komponen apa saja yang menjadi penilaian dalam evaluasi pembelajaran daring sehingga pembelajaran daring yang dilaksanakan selama ini dan berikutnya dapat menjadi aktivitas pembelajaran yang lebih efektif dan efisien untuk dilaksanakan.
2. Pertemuan kedua, guru menyusun hasil belajar siswa selama pembelajaran daring dimasa pandemi covid 19 yang akan digunakan sebagai bahan evaluasi.
3. Pertemuan ketiga, guru dibantu oleh tim pengusul untuk menerapkan evaluasi pembelajaran daring dengan menggunakan model CIPP dan mengisi kuisioner berkaitan evaluasi tersebut. Dengan demikian, guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pembelajaran daring yang dilakukan selama pandemi covid 19 ini.
KELUARAN YANG DICAPAI
Target yang diharapkan dari kegiatan
Penelitian ini adalah:
1.
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
guru tentang pentingnya evaluasi pembelajaran daring.
2.
Meningkatkan wawasan guru melalui pengembangan evaluasi pembelajaran, dilakukan melalui
kegiatan pendampingan untuk guru dalam mengevaluasi kegiatan
pembelajaran daring yang auntentik
dengan menggunakan Model CIPP. Secara lebih terperinci, luaran yang ingin dicapai dalam
kegiatan sebagai berikut:
1. Publikasi ilmiah pada Jurnal ber ISSN/ Prosiding Jurnal Nasional.
2. Publikasi pada media masa cetak Online.
3. Video
MANFAAT YANG DIPEROLEH
5.1. Hasil yg dilakukan kepada mitra
Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten Deli Serdang.
Kegiatan ini disambut baik oleh Kepala Sekolah
dan guru di SMP
Swasta Pembangunan. Kegiatan penelitian ini dimulai
dari persiapan: perizinan, penentuan
lokasi, waktu dan tempat kegiatan. Serta
kegiatan inti yakni sosialisasi program
dan evaluasi pembelajaran dengan pengisian kuisioner
secara online. Para responden sangat antusias dalam kegiatan ini, hal ini dibuktikan
dengan hampir keseluruhan guru hadir dalam program penelitian ini dan aktif dalam
merespon materi di sesi tanya jawab yang dilakukan tim penelitian.
Para guru belum melakukan evaluasi
pembelajaran daring selama masa pandemi
Covid 19. Selama ini para guru memahami
pentingnya evaluasi pembelajaran, namun dikarenakan kesibukan
aktivitas pembelajaran dan kegiatan kesehariannya, para guru melewatkan tahap evaluasi sebagai
salah satu tolak ukur keberhasilan pembelajaran daring yang harus dilakukan. Pembelajaran daring berlangsung terus tanpa adanya
solusi jelas yang dilakukan sebagai
perbaikan dalam KBM. Padahal evaluasi
pembelajaran dapat menjadi
solusi untuk menghadapi tantangan dan hambatan yang
terjadi dalam pembelajaran daring yang dihadapi guru maupun siswa, sehingga pembelajaran daring dapat berjalan
lebih baik dan maksimal.
Hasil
penelitian yang sudah dilakukan, yaitu;
1.
Timbulnya motivasi
dan kesadaran diri para guru, bahwasanya
evaluasi pembelajaran bukan hanya untuk diketahui, namun dijalankan agar terjadi perbaikan demi perbaikan dalam pembelajaran sebagai bentuk pembelajaran menuju KBM
yang lebih optimal.
2.
Pemahaman para guru
tentang apasaja tolak ukur yang dilihat
dalam mengevaluasi pembelajaran daring sesuai dengan 4 komponen
yang disampaikan dalam model
CIPP.
3.
Kegiatan penelitian ini dilakukan 2 arah, sehingga
tanya jawab menjadi
salah satu jembatan bagi para guru untuk lebih merinci
dalam memperjelas hal-hal
apa saja yang menghambat
KBM dan membuat para guru lebih memahami proses yang akan dilakukan berikutnya untuk menerapkan evaluasi
pembelajaran secara mandiri
kedepannya.
5.2
Dampak Ekonomi dan Sosial
Melalui
evaluasi pembelajaran daring dengan Model CIPP, maka didapat beberapa
kesimpulan yang terkait
dengan keempat komponen
yang akan dijabarkan sebagai berikut;
1.
![]()

![]()
Komponen Context

![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Komponen
Context dalam evaluasi ini memiliki
tiga indikator dan diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama,
indikator Tujuan Sistem Pembelajaran daring diperoleh TPR 57,1%
yang masuk kategori cukup baik, artinya tujuan pembelajaran cukup baik
Gambar 1. Hasil
Analisis TPR Pada Aspek Context terlaksana dalam pembelajaran daring. Kedua,
indikator Kebutuhan terhadap pelaksanaan sistem pembelajaran daring dilingkungan SMP Swasta Pembangunan
diperoleh nilai TPR sebesar 42,9% dengan kategori cukup, yaitu sekolah
memang cukup membutuhkan pembelajaran daring sebagai
bentuk partisipasi dalam penanggulangan penularan
wabah Covid 19. Ketiga, indikator
Lingkungan Pelaksanaan Sistem Pembelajaran Daring diperoleh nilai TPR
50% dengan kategori cukup, artinya pelaksanaan sistem pembelajaran daring tergolong cukup
baik, namun masih banyak catatan
yang harus diperbaiki agar dukungan dari berbagai lingkungan yaitu pihak sekolah
maupun pemerintah terhadap
pelaksanaan pembelajaran daring lebih baik lagi.
2.

Komponen Input
Komponen input dalam evaluasi ini memiliki empat indikator dan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Kompetensi Pendidik memperoleh TPR 50% dengan kategori cukup baik. Artinya pendidik memiliki kualifikasi pendidikan dan kompetensi guru hanya 50% yang memiliki kualifikasi baik, sehingga pihak sekolah perlu meningkatkan lagi kemampuan pendidik agar lebih baik pada masa yang akan datang. Kedua, indikator Pemahaman Siswa dengan sub indikator latar belakang mahasiswa dan kemampuan mahasiswa diperoleh TPR 50% dengan kategori cukup. Artinya untuk menerapkan sistem pembelajaran daring siswa masih perlu banyak perbaikan dari segi metode pembelajaran yang lebih baik agar pemahaman siswa lebih baik pula dalam menyerap pelajaran. Ketiga, indikator Ketersediaan Sarana dan Prasana dengan sub indikator yaitu ketersediaan fasilitas (internet, laptop, dan jaringan listrik) memperoleh TPR sebesar 50% dengan kategori baik. Hal ini membuktikan bahwa sistem pembelajaran daring di SMP Swasta Pembangunan memiliki sarana dan prasana yang baik, meskipun demikian pihak sekolah dan pemerintah masih harus tetap meningkatkan dan menambah fasilitas lain yang menunjang dalam pembelajaran sehingga diharapkan dengan lengkapnya sarana dan prasana, guru maupun siswa mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Keempat, indikator Ketersediaan Silabus dan RPS sebagai perangkat pembelajaran diperoleh TPR sebesar 71,4% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dari perangkat pembelajaran yang ada pada program sistem pembelajaran daring cukup, namun perlu banyak perbaikan.
3.
![]()

Komponen Process
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Pada Aspek Process Komponen process dalam evaluasi ini memiliki lima indikator dan diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, indikator Pelaksanaan Pembelajaran dengan sub indikator proses pelaksanaan sistem pembelajaran daring diperoleh TPR sebesar 64,3% dengan kategori cukup. Artinya proses pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan cukup baik, namun dengan banyak catatan perbaikan seperti kurangnya aktivitas pembelajaran dua arah antara guru dan siswa dikarenakan pembelajaran hanya menggunakan aplikasi Whats App. Kedua, indikator Aktivitas Pendidik diperoleh TPR sebesar 57,1% dengan kategori baik. Artinya, kegiatan pendidik dalam penerapkan berbagai metode pembelajaran dalam pembelajaran daring juga sudah berjalan dengan baik, walaupun dalam catatan evaluasi banyak diantara guru yang masih belum mampu menggunakan aplikasi pembelajaran online dengan baik. Ketiga, Indikator Aktivitas Siswa dengan sub indikator pemanfaatan sarana prasarana dalam pelaksanaan sistem pembelajaran daring, berdasarkan data yang diperoleh secara kuantitatif, didapat TPR sebesar 57,1% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa masih perlu banyak perbaikan, hal ini sejalan dengan pernyataan guru dimana masih banyak orang tua siswa yang tidak memiliki fasilitas handphone android, sehingga banyak siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran daring. Sehingga dengan fasilitas yang tidak memadai, sudah pasti siswa tidak dapat maksimal dalam pemanfaatan sarana dan prasarana pembelajaran daring. Keempat, indikator Kendala dengan sub indikator hambatan- hambatan dalam proses pelaksanaan sistem pembelajaran daring, diperoleh TPR sebesar 57,1% dengan kategori cukup. Hal ini membuktikan bahwa pihak sekolah dalam mengelola program sistem pembelajaran daring.masih kurang bisa mengatasi kendala seperti masih ada beberapa guru yang belum dibantu untuk fasilitas pembelajaran daring seperti handphone Android ataupun laptop. Kendala lainnya yaitu kecepatan akses jaringan internet yang masih lambat bagi guru dan siswa, Kuota internet yang mahal dan subsidi kuota yang belum merata, kemampuan guru yang belum terampil menggunakan aplikasi pembelajaran online, serta banyak kendala lainnya. Kelima, indikator Solusi memperoleh TPR sebesar 57,1% dengan kategori cukup. Hal ini membuktikan bahwa solusi yang ditawarkan pihak sekolah cukup baik, yaitu agar sekolah bisa menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran daring di SMP Swasta Pembangunan.
4.

![]()
Komponen Product

![]()
![]()
![]()
![]()
Gambar 4. Hasil Analisis TPR Pada Aspek
Product
Komponen product dalam evaluasi ini memiliki dua indikator dan diperoleh hasil sebagai berikut;
Pertama, indikator Hasil Belajar memperoleh TPR sebesar 64,3% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar mahasiswa yang mengikuti program sistem pembelajaran daring masih perlu banyak catatan, hal ini sesuai dengan pernyataan guru yang menyatakan banyak siswa yang kurang mengerti dengan materi ajar yang disampaikan sehingga nilai yang didapat siswa dari penugasan dan latihan secara daring kurang baik.
Kedua, Indikator Dampak Keilmuan dengan sub indikator dampak pelaksanaan sistem pembelajaran daring diperoleh data secara kuantitatif yaitu untuk TPR sebesar 57,1% dengan kategori cukup. Pembelajaran daring ini cukup memberikan tambahan muatan keilmuan bagi para guru dan siswa, dimana sebelumnya guru mengajar dengan cara yang sangat konvensional dan belum banyak melibatkan media online dalam pembelajarannya. Sehingga kedepannya guru dapat memadukan pembelajaran tatap muka maupun daring agar kualitas pembelajaran jauh lebih efektif dan efisien.
5.3
Kontribusi Mitra terhadap pelaksanaan.
Dalam program ini tim penelitian dan Mitra saling partisipatif dalam pelaksanaan PKM yang
meliputi;
1.
Mitra sebagai
penyedia tempat untuk
menyelenggarakan kegiatan penelitian yaitu di SMP Swaswa Pembangunan Kabupaten Deli Serdang.
2.
Mitra berperan
sebagai peserta penelitian dan aktif berperan dalam kegiatan diskusi/
tanya jawab
FAKTOR PENGHAMBAT, PENDUKUNG DAN TINDAK LANJUT
Faktor penghambat terlaksananya evaluasi pembelajaran daring di SMP Swasta Pembangunan ini tergolong cukup banyak dan secara umum terjadi di sekolah lainnya,
yaitu;
1.
Kurangnya sarana dan
prasarana pembelajaran daring
Beberapa guru masih ada yang belum memiliki handphone Android sebagai sarana pembelajaran daring, sehingga guru meminjam handphone kerabatnya untuk melaksanakan pembelajaran. Dan saat pelaksanaan penelitian, beberapa guru tidak bias mengisi angket secara online karena tidak memiliki fasilitas handphone Android. Selain itu banyak pula dari orangtua siswa yang juga tidak memiliki handphone Android sehingga pembelajaran daring tidak berjalan dengan baik.
2. Kuota Mahal dan Jaringan
Lemah
Kuota yang mahal juga menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Walaupun
ada bantuan kuota dari pemerintah, namun tidak semua guru dan siswa mendapatkan fasilitas tersebut.
3. Antusias dan Motivasi Belajar Siswa Melemah
Dengan
pembelajaran daring yang hanya menggunakan aplikasi Whats App, membuat siswa kurang tertarik dan kurang termotivasi untuk berperan aktif selama pembelajaran, sehingga materi maupun
penugasan yang disampaikan guru di
grup WhartsApp seringkali diabaikan dan tidak
ditanggapi siswa yang mulai bosan dengan pembelajaran yang memang kurang efektif
seperti yang selama ini terlaksana.
6.2. Faktor yang Mendukung
Faktor pendukung dalam pelaksanaan penelitian adalah guru dan kepala sekolah sangat kooperatif dalam membantu tim untuk mempersiapkan terlaksananya kegiatan penelitian, serta berperan aktif
dalam tanya jawab dan memberi
saran dan masukan
untuk evaluasi pembelajaran daring. Selain itu semua guru maupun kepala sekolah sangat termotivasi untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan, sehingga
kedepannya hal ini dapat menjadi kekuatan untuk sekolah dapat terus maju dan berkarya mencetak peserta
didik yang hebat dikemudian hari.
6.3 Solusi dan Tindak
Lanjutnya
Dengan beberapa
faktor penghambat dan faktor pendukung
yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
solusi yang ditawarkan oleh tim pengabdian adalah dengan
melaksanakan evaluasi pembelajaran daring yang terus menerus, paling tidak evaluasi dilakukan
sekali dalam setiap semester sehingga
akan sangat efektif
untuk mengukur tingkat
keberhasilan penggunaan media pembelajaran daring yang dilakukan di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten
Deli Serdang. Dengan begitu
pembelajaran di SMP Swasta Pembangunan ini akan terus mengalami perbaikan demi perbaikan.
Keberlanjutan program ini adalah dengan monitoring guru dalam menggunakan model evaluasi CIPP dan membantu guru dalam konsultasi terkait
pelaksanaan evaluasi mandiri
yang dilakukan guru kedepannya. Diharapkan dengan keberlanjutan evaluasi
yang terus menerus
dapat membantu untuk menjalankan KBM agar berlangsung dengan lebih efektif dan efisien.
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian
yang dilaksanakan di SMP Swasta Pembangunan Kabupaten
Deli Serdang telah berjalan dengan lancar
dan para guru dan kepala sekolah sangat antusias
terhadap kegiatan tersebut. Kegiatan ini menambah motivasi,
wawasan dan pemahaman guru tentang pentingnya evaluasi
dalam pembelajaran daring.
Selain itu para guru dan kepala
sekolah sangat antusias
untuk mendapatkan pengetahuan baru dari para dosen tim penelitian, sehingga mereka sangat terbuka sekali untuk kegiatan
seperti ini diteruskan di sekolah mereka.
7.2. Saran
Sebagai penunjang kegiatan pengabdian ini, SMP Swasta Pembangunan Kabupaten
Deli Serdang harus memperbaiki kekurangan yang terjadi dalam
prosen pembelajaran. Evaluasi pembelajaran
harus menerus dilakukan, baik pembelajaran tersebut
daring maupun tatap muka. Karena sesungguhnya evaluasi akan menghasilkan pencapaian yang jauh lebih
baik kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, K. (2020).
Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 (Corona) di
Lingkungan
Perguruan TinggiKeagamaan Islam.
Henderson. (2003). The
E-Learning Question and Answer Book. American
Management
Association.
Clark, R. C. & Mayer, R. E. (2003). E- Learning and the Science of
Instruction.
ossey –Bass/Pfeiffer.
GTPPCovid-19. (2020). Protokol Percepatan Penanganan Pandemi Covid-
19 (Corona Virus Disease 2019).
Stufflebeam
dan Shinfield. (1985). Systematic Evaluation. Kluwer Nijhof
Publishing.
G.F, Madaus., M.S
Scriven., and D.L, S. (1993).
Evaluation Models, Viewpoints on Educational and Human Services
Evaluation.
Kluwer-Nijhoff Publishing.